Penggunaan Bahasa Sunda di daerah Perbatasan (Bekasi)

Penggunaan Bahasa Sunda saat ini di kalangan masyarakat Jawa Barat semakin jarang sekali digunakan. Terlebih di daerah-daerah perbatasan seperti di daerah  Bekasi. Kota Bekasi memiliki luas wilayah sekitar 210,49 km2, dengan batas wilayah Kota Bekasi adalah:
• Sebelah Utara : Kabupaten Bekasi
• Sebelah Selatan : Kabupaten Bogor dan Kota Depok
• Sebelah Barat : Provinsi DKI Jakarta
• Sebelah Timur : Kabupaten Bekasi
Letak geografis : 106o48’28’’ – 107o27’29’’ Bujur Timur dan 6o10’6’’ – 6o30’6’’ Lintang Selatan.

Jumlah Penduduk Kota Bekasi saat ini lebih dari 2,2 juta jiwa yang tersebar di 12 kecamatan, yaitu Kecamatan Pondok Gede, Jati Sampurna, Jati Asih, Bantar Gebang, Bekasi Timur, Rawa Lumbu, Bekasi Selatan, Bekasi Barat, Medan Satria, Bekasi Utara, Mustika Jaya, Pondok Melati.

Jumlah penduduk yang terbilang banyak dan tersebar di 12 Kecamatan namun hanya sebagian kecil saja yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari mereka. Hal ini dapat terlihat darimana ? dari keseharian komunikasi yang dilakukan masyarakat umumnya menggunakan Bahasa Indonesia serta rendahnya minat peserta didik di sekolah menggunakan Bahasa Sunda dalam komunikasi antar sesama peserta didik lainnya.

Ada beberapa kelompok masyarakat saja yang menggunakan Bahasa Sunda untuk komunikasi sehari-hari itupun dikarenakan mereka sebagai pendatang yang berasal dari daerah Sunda seperti Tasikmalaya, Garut, Bandung dll. Pendatang menggunakan bahasa Sunda jika sedang berkomunikasi dengan sesama orang Sunda, jika mereka berkomunikasi dengan yang lainnya maka menggunakan Bahasa Indonesia.

Entah dikarenakan sulit ataupun gengsi, penggunaan bahasa Sunda  semakin dilupakan. Terutama oleh orang yang lahir didaeah perbatasan seperti Bekasi, lebih dekat dengan ibu Kota Jakarta yang menggunakan Bahasa Betawi dalam kesehariannya.

Di sekolahpun, peserta didik lebih suka menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris dibandingkan menggunakan Bahasa Sunda. Penggunaan bahasa Sunda di kelas hanya sebatas jam mata pelajarannya saja 2 jam pelajaran dalam 1 minggu (90 menit) dan masuk ke dalam mata pelajaran mulok.

Gubernur menginginkan mata pelajaran Bahasa Sunda ini tetap ada di daerah Jawa Barat, namun di sekolah sendiri penggunaan Bahasa Sunda hanya sebatas menuntaskan kewajiban mulok saja tanpa ada usaha keras dalam penerapannya menjadi Bahasa daerah yang di lestarikan dengan cara menggunakan Bahasa tersebut dalam komunikasi sehari-hari.

 

Bagaimana agar Bahasa Sunda tidak di anggap susah ?

Bagaimana agar masyarakat JABAR mau menggunakan Bahasa Sunda dalam keseharian mereka ?

Apa penyebab masyarakat perbatasan Bekasi-Jakarta lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari ?

Tanyakan pada dirimu sendiri sudahkan berbahasa Sunda hari ini ?

 

Di tulis oleh :
Amitania Ibmianur
Guru Bahasa Sunda kelas X Perhotelan dan Tata Boga
SMK Negeri 3 Kota Bekasi