Herlina Septiana

Prodi Pendidikan Profesi Guru, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Email : elin.aja12@gmail.com

 

ABSTRAK

Kegiatan pembelajaran dapat terlaksana bila semua komponen terpenuhi, yaitu guru dan siswa. Di era modern seperti ini prilaku membolos masih terjadi, apalagi siswa yang tidak mempunyai pendirian hanya ikut-ikut teman untuk membolos masih saja terjadi. Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah sejauh mana prilaku membolos dapat diturunkan dengan konseling individu melalui teknik latihan asertif untuk menolak ajakan teman membolos. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI TKJ 4 SMK Negeri 3 Kota Bekasi tahun ajaran 2022/2023. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah angket, wawancara dan observasi. Hasil yang diperoleh pada siklus I yaitu 55% dari indikator perilaku membolos sedangkan disiklus II mengalami keberhasilan dengan menurunnya perilaku membolos menjadi 32%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan pendekatan behavior teknik latihan asertif siswa bersikap tegas menolak ajakan teman membolos.

Kata Kunci : Konseling Individu, Latihan Asertif, Perilaku Membolos

 

PENDAHULUAN

Proses pembelajaran di sekolah adalah kegiatan berkesinambungan antara guru dan peserta didik. Belajar di sekolah dapat diimplemantasikan apabila stimulus yang diberikan oleh guru dan respon yang ditangkap oleh peserta didik. Apabila hal tersebit tidak terlaksana, maka implementasi proses belajar dan mengajar tidak akan terjadi. Di era modern saat ini, perilaku membolos (ditching) menjadi fenomenal. Sebagaimana dipahami dampak perilaku membolos adalah mengalami kegagalan dalam pembelajaran.

Gunarsa (2006:31), berpendapat bahwa perilaku membolos adalah tidak datang ke sekolah tanpa pengetahuan dari pihak sekolah. Sedangkan menurut Supriyo (2008:111), perilaku     membolos dapat diartikan sebagai anak yang meninggalkan sekolah dan anak yang meningalkan sekolah sebelum usai. Pendapat lain dikemukakan oleh Kartini dan Kartono (2003:21) perilaku membolos merupakan prilaku yang melanggar norma-norma sosial sebagai akibat dari proses pengkondisian lingkungan yang buruk. Kebiasaan membolos yang sering dilakukan oleh siswa akan berdampak negatif pada dirinya, misalnya dihukum, diskorsing, tidak dapat mengikuti ujian, bahkan bisa dikeluarkan dari sekolah. Selain itu, kebiasaan membolos juga dapat menurunkan prestasi belajarnya. Kebiasaan membolos merupakan tingkah laku yang disebabkan karena kurangnya pengendalian tingkah laku, maka diperlukan suatu cara untuk membantu permasalahan siswa dalam mengendalikan tingkah lakunya. Kebiasaan membolos tentunya dipengaruhi dari berbagai faktor yang mana bisa berasal dari internal dan eksternal. Faktor eksternal yang menjadikan alasan siswa untuk membolos adalah salah satunya mata pelajaran yang kurang diminati. Masa remaja adalah masa yang penuh gelora dan semangat dalam berkreatifitas. Menurut pandangan psikologis usia 15-21 tahun adalah usia pencarian jati diri. Terbukti, siswa yang suka membolos seringkali terlibat dengan hal-hal yang cenderung merugikan. Sedangkan Faktor internal yang menjadikan siswa membolos yaitu malas untuk kesekolah, kurang perhatian dari orang tua. Tumpuan kesalahan prilaku membolos kebanyakan dibebankan kepada anak didik yang terlibat membolos. Ketika kasus demi kasus dapat terungkap anak didiklah yang menjadi beban kesalahan. Ini adalah sikap yang tidak mendukung justru akan menambah masalah. Sikap hunanis dan saling introspeksi diri itu adalah hal yang mendukung untuk menyelesaikan masalah prilaku membolos. Unsur-unsur yang ada disekolah bisa saja menjadi alasan siswa bisa membolos.

Fenomana membolos ini juga terjadi di sekolah peneliti. Berdasarkan need assessmen yang dilakukan oleh peneliti sebagai guru BK pada hari kamis tanggal 01 November 2022 melalui google formulir dapat diketahui bahwa 60% siswa membolos selama pembelajaran luring di kelas. Faktor penyebab membolos bermacam-macam. Dari hasil angket tersebut diperoleh data bahwa 20% siswa membolos karena kesiangan, 40% siswa membolos karena diajak teman untuk nongkrong diwarung, 22% tidur di kelas dalam proses pembelajaran, 18% lebih asyik game online dari pada mengikuti pembelajaran di kelas, 10% tidak suka dengan mata pelajaran di kelas. Sedangkan hasil observasi dan wawancara dengan wali kelas dan guru mata pelajaran yang dilaksanakan pada hari senin tanggal 28 Oktober 2022 didapatkan data bahwa siswa yang sering tidak mengikuti pembelajaran di kelas sehingga mereka tidak mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh guru.

Jika perilaku membolos seperti yang dikemukakan di atas dibiarkan dan tidak ditanggulangi dengan segera tentu akan membawa kerugian bagi anak anak yang bersangkutan serta orang tuanya sendiri. Kerugian nyata yang akan dialami anak adalah menurunnya prestasi belajar karena jarang mengikuti pelajaran yang mengakibatkan siswa tersebut bisa tidak naik kelas. Oleh karena itu disini peneliti ingin melakukan konseling individu dengan menerapkan pendekatan behavior teknik latihan asertif pada siswa agar bisa menolak dengan tegas ajakan teman dan berkata tidak untuk membolos. Pemilihan strategi konseling individu oleh peneliti dikarenakan peneliti bermaksud menggali informasi yang lebih mendalam lagi, dalam kegiatan konseling individu nantinya akan dilakukan dengan Teknik latihan asertif, dengan tujuan siswa mampu menolak ajakan temanya untuk membolos. Menurut Prayitno (2004) konseling individu merupakan layanan konseling yang  dilakukan oleh seorang konselor terhadap seorang klien dalam rangka pengentasan masalah pribadi klien dalam suasana tatap muka dilaksanakan interaksi secara langsung antara klien dan konselor dalam rangka mambahas berbagai hal tentang masalah yang dialami klien. Konseling individu itu sendiri memiliki beberapa macam pendekatan yang dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi oleh siswa. Salah satu pendekatan konseling yang dapat digunakan dalam mengatasi masalah tersebut adalah konseling behavior. Konseling behavioral adalah suatu teknik dalam konseling yang berlandaskan teori belajar berfokus pada tingkah laku individu untuk membantu konseli mempelajari tingkah laku baru dalam memecahkan masalahnya. Tujuan konseling behavioral yaitu : (1) Menciptakan perilaku baru. (2) Menghapus perilaku yang tidak sesuai. (3) Memperkuat dan mempertahankan perilaku yang diinginkan. Prosedur Konseling Behavior: (1) Pembinaan hubungan baik. (2) Konselor membina hubungan baik dengan konseli melalui penerimaan kondisi konseli apa adanya sebagai individu berharga, penampilan diri konselor secara tulus di hadapan konseli, dan memahami kondisi konseli secara empatik. (3) Identifikasi masalah (Asesmen). (4) Pada tahap asesmen ini, konselor melakukan analisis ABC A = Antecedent (pencetus perilaku) B = Behavior (perilaku yang dipermasalahkan), meliputi: (1) Tipe tingkah laku (2) Frekuensi tingkah laku (3) Durasi tingkah laku (4) Intensitas tingkah laku Data tingkah laku ini menjadi data awal (baseline data) yang akan dibandingkan dengan data tingkah laku setelah intervensi C = Consequence (konsekuensi atau akibat perilaku tersebut). (5) Merumuskan Tujuan (Goal Setting) Fase goal setting terdiri dari tiga langkah: (a) Membantu konseli memandang masalahnya atas dasar tujuan yang diinginkan (b) Memperhatikan tujuan konseli berdasarkan kemungkinan hambatan-hambatan situasional tujuan belajar yang dapat diterima dan dapat diukur (c) Memecahkan tujuan ke dalam sub tujuan dan menyusun tujuan menjadi susunan yang berurutan (6) Implementasi Teknik (Technique Implementation) Konselor menentukan teknik sesuai tujuan dan masalah yang dialami konseli. Konselor memfokuskan bantuan kepada konseli untuk mempelajari sekaligus mengaplikasikan strategi pengubahan perilaku yang didasarkan pada prinsip-prinsip belajar agar didapatkan perilaku yang diinginkan dan efektif. Dalam implementasi teknik, konselor membandingkan perubahan tingkah laku antara baseline data dengan data intervensi. (7) Evaluasi dan Pengakhiran (Evaluation and Termination) Dalam hal ini pengakhiran meliputi: (a) Menguji apa yang konseli lakukan terakhir, (b) Mengeksplorasi kemungkinan kebutuhan konseling tambahan, (c) Membantu konseli mewujudkan apa yang dipelajari dalam proses konseling ke tingkah laku sehari-hari konseli, (d) Membantu konseli untuk memantau secara kontinyu perilakunya.

Pendekatan behavioral berfokus pada pengubahan tingkah laku dengan menekankan pada pemberian penghargaan bagi konseli ketika melakukan suatu kegiatan yang baik dan memberi konsekuensi untuk mencegah konseli agar tidak melakukan kegiatan yang buruk. James dan Gilliland (dalam Sundari, 2017) juga mengatakan pada dasarnya konseling behavioral diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku yang maladaptif, serta memperkuat/mempertahankan tingkah laku yang diinginkan. Sedangkan menurut Corey (dalam Wiladantika, Dharsana, & Suranata, 2014) konseling behavioral adalah teori yang menekankan tingkah laku manusia yang pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan dan segenap tingkah lakunya itu dipelajari/diperoleh karena proses latihan.

Teknik konseling behavior terdiri dari dua macam yaitu: (1) teknik untuk meningkatkan tingkah laku seperti penguatan positif, token economy, pembentukan tingkah laku (shaping), pembuatan kontrak (contingency contracting) serta (2) teknik untuk menurunkan tingkah laku seperti penghapusan (extinction), time-out, pembanjiran (flooding), penjenuhan (satiation), hukuman (punishment), terapi aversi (aversive therapy), dan desensitisasi sistematis.

George dan Christiani (dalam Latipun, 2008) mengemukakan bahwa konseling behavior itu memilki ciri-ciri sebagai berikut: a) Berfokus pada perilaku yang tampak dan spesifik, b) Memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan terapeutik, c) Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien, d) Penaksiran objektif atas tujuan terapeutik. Selain itu menurut Hartono (2012:129) Latihan asertif merupakan bentuk terapi perilaku yang dirancang untuk memberikan pelatihan ketegasan. Latihan Asertif pada dasarnya merupakan suatu program belajar yang dirancang untuk mengembangkan kompetensi manusia dalam hubungannya dengan orang lain. Hounston (Nursalim, 2013) mengemukakan bahwa Latihan Asertif merupakan suatu program belajar untuk mengajar manusia mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara jujur dan tidak membuat orang lain menjadi terancam. Zatrow (Nursalim, 2013) Latihan asertif dirancang untuk membimbing manusia menyatakan, merasa, dan bertindak pada asumsi bahwa mereka memiliki hak untuk menjadi dirinya sendiri dan untuk mengekspresikan perasaan secara bebas (Arumsari, 2017).

Langkah-Langkah Assertive Training (Arumsari, 2017): Langkah 1: Rasional Strategi (a) Konselor memberikan rasional/menjelaskan maksud penggunaan strategi, (b) Konselor memberikan overview tahapan-tahapan implementasi strategi. Langkah 2 : Identifikasi keadaan yang menimbulkan persoalan. Konselor meminta konseli menceritakan secara terbuka permasalahan yang dihadapi dan sesuatu yang dilakukan atau dipikirkan pada saat permasalahan timbul. Langkah 3 : Membedakan perilaku asertif dan tidak asertif serta mengeksplorasi target Konselor dan konseli membedakan perilaku asertif dan perilaku tidak asertif serta menentukan perubahan perilaku yang diharapkan. Langkah 4 : Bermain peran, pemberian umpan balik serta pemberian model perilaku yang lebih baik (a) Konseli bermain peran sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. (b) Konselor memberikan umpan balik secara verbal, (c) Pemberian model perilaku yang lebih baik (d) Pemberian penguat positif dan penghargaan. Langkah 5 : Melaksanakan latihan dan praktik. Konseli mendemosntrasikan perilaku yang asertif sesuai dengan target perilaku yang diharapkan. Langkah 6 : Mengulang, konseli mengulang latihan kembali tanpa bantuan pembimbing. Langkah 7 : Tugas rumah dan tindak lanjut, Konselor memberi tugas rumah pada konseli, dan meminta konseli mempraktikan perilaku yang diharapkan dan memeriksa perilaku target apakah sudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah 8 : Terminasi, Konselor mengehentikan program bantuan. Penelitian yang relevan juga dilakukan oleh Devi Marwati (2019) meneliti bahwa konseling individu dengan Teknik assertive training dapat mempengaruhi perilaku membolos siswa. Alasan memilih layanan konseling individual menggunakan pendekatan Behavioral teknik Assertive Training karena didukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Trisnawati (2020) dengan hasil penelitian bahwa prilaku membolos dapat diturunkan dengan memberikan layanan konseling individu melalui teknik latihan asertif untuk bisa menolak dengan tegas ajakan teman membolos ataupun berkata tidak untuk membolos. Hasil yang didapat ada perbedaan tingkat membolos siswa sebelum mendapat layanan dan sesudah mendapat layanan. Berdasarkan latar belakang di atas peneliti sebagai guru BK di sekolah ingin menurunkan prilaku membolos siswa dengan konseling individu melalui Teknik latihan asertif. Tujuan dari penelitian ini untuk menurunkan perilaku membolos dengan Latihan asertif.

Model penelitian yang peneliti gunakan adalah Model Lewin (dalam Arikunto, 2004) komponennya adalah 1) Perencanaan (Planning), dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. 2) Pelaksanaan (Actuating). Pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan. 3) Pengamatan (observing), kegiatan observasi dilakukan untuk mengamati aktifitas anak dan guru selama proses layanan berlangsung. 4) Perenungan (Reflecting), Merumuskan hal-hal yang belum dan telah dilakukan berdasarkan hasil observasi dan evaluasi.

Menurut Sugiyono (2017:81) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel dilakukan karena peneliti memiliki keterbatasan penelitian baik dari segi tenaga, waktu dan jumlah populasi. Oleh karena itu peneliti mengambil sampel yang benar-benar dapat mewakili. Sampel dari penelitian ini adalah salah satu siswa kelas XI TKJ 4 SMK Negeri 3 Kota Bekasi, dimana terdapat satu siswa yang tingkat membolosnya paling tinggi diantara temannya. Penyebab siswa tersebut membolos adalah dia tidak bisa menolak ajakan temannya untuk bersantai diwarung. Siswa tadi pun tidak pernah mengumpulkan tugas dari guru mata pelajaran sehingga perlu tindak lanjut khusus. Waktu penelitian ini diadakan  pada tanggal 28 oktober 2022 sampai 01 November 2022.

Teknik pengumpulan data menurut Sugiyono (2017:137) bila dilihat dari sumbernya ada dua yaitu primer dan sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh dari pihak lain secara tidak langsung. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah angket, observasi dan wawancara. Angket digunakan untuk mengukur sejauh mana perilaku membolos siswa sebelum dan sesudah diberikan terapi perilaku. Observasi dilakukan pada saat pemberian layanan konseling maupun setelah siswa tersebut menerapkan latihan asertif. Wawancara digunakan untuk mengetahui perilaku siswa di setiap pembelajaran. Wawancara dalam penelitian ini melibatkan guru mata pelajaran.

Teknik pengolahan data yang digunakan peneliti adalah kualitatif dengan proses reduksi data, paparan data sampai penyimpulan. Menurut miles dan Huberman (1992:19), ada tiga tahapan yang harus dikerjakan dalam menganalisis data kualitatif, yaitu: reduksi data (data reduction), paparan data (data display), dan penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing/verifying). Analisa data kualitatif dilakukan secara bersamaan dengan proses pengumpulan data berlangsung dan sesudah pengumpulan data. Data hasil pengamatan guru sejawat yang berkolaborasi disederhanakan dalam bentuk tabel, dinarasikan dan disimpulkan.

Hasil kesimpulan ini dipergunakan untuk memperbaiki penelitian pada siklus berikutnya. Reduksi data diperoleh dari hasil wawancara dan observasi serta dokumentasi pelaksanaan konseling, dengan merangkum dan memfokuskan pada tujuan penelitian. Selanjutnya, data  hasil proses reduksi disajikan dalam bentuk catatan agar peneliti dapat menganalisa dengan mudah dalam bentuk refleksi dan disajikan dalam bentuk teks. Hasil dari reduksi data dan penyajian data disimpulkan untuk menjawab rumusan masalah yang ingin diungkap.

 

METODE PENELITIAN

Dari hasil observasi dalam pelaksanaan konseling individu untuk menurunkan perilaku membolos siswa menggunakan  Pendekatan Behavior Teknik latihan asertif sudah mencapai hasil yang maksimal. Dari evaluasi hasil yang diperoleh Siswa sudah semangat dalam mengikuti pembelajaran, siswa sudah mengumpulkan tugas dengan tepat waktu, dan sudah tidak terpengaruh temannya untuk membolos lagi. Tingkat membolos siswa juga mengalami penurunan.

Data yang diperoleh pada siklus I masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi siswa dalam mempraktekkan latihan asertif. Siswa masih ragu-ragu untuk menolak ajakan teman atau berkata tidak untuk membolos. Dalam siklus I kategori tingkat membolos siswa masih sedang yaitu diangka 55% yangg berarti ini perlu diturunkan lagi. sehingga siswa dalam pemberian layanan konseling individu ini perlu diberikan treatment untuk perbaikan disiklus II.

Hasil layanan konseling individu pada siklus II ini mengalami perbaikan, yaitu siswa sudah bisa berkata tidak untuk membolos, sudah bisa menolak ajakan teman dan mampu mempraktekkan latihan asertif sehingga diperoleh data tingkat membolos siswa mengalami penurunan di angka 32%. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian yaitu siswa mampu mengatakan tidak untuk membolos sehingga perilaku membolos bisa menurun. Data tersebut juga didukung dengan gambaran grafik data yang menunjukan perubahan yang cukup signifikan dan bagus dari siswa tersebut. Dari hasil tersebut dapat dikatakan penggunaan konseling individu dengan Pendekatan Behavior Teknik Latihan asertif sangat efektif untuk menurunkan prilaku membolos pada siswa.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengumpulan data dari wawancara guru mata pelajaran didapat data bahwa siswa ADR (inisial) kelas XI TKJ 4 memiliki tingkat membolos tinggi diantara temannya yang lain. Yaitu 3-4 kali dalam seminggu. Perilaku membolos tersebut disebabkan karena siswa tidak dapat menolak ajakan teman dengan tegas untuk tidak membolos. Dia sudah berusaha menolak tapi selalu tidak berhasil.

Indikator perilaku membolos siswa disini adalah: 1) siswa malas mengikuti pembelajaran, 2) siswa ikut-ikutan teman membolos, 3) tidak masuk kembali setelah meminta izin, 4) tidak mengumpulkan tugas, dan 5) sering tidak mengikuti pembelajaran. Dari indikator tesebut dibuat item angket untuk mengukur tingkat membolos siswa. Dari ini juga dibuatkan kriteria tingkat membolos.

Berdasarkan hasil pemberian layanan konseling individu pada siklus I diperoleh hasil bahwa: a) siswa belum bisa memahami tujuan dari pemberian layanan, b) siswa belum bisa menerapkan  latihan asertif yang diberikan oleh guru, c) siswa masih ragu-ragu dalam mengatakan tidak untuk membolos. Karena tujuan dari penelitian ini belum tercapai maka dilakukan siklus II. Di siklus II ini siswa sudah ada kemajuan, sudah bisa memerankan strategi latihan asertif dan mampu bermain peran dengan peneliti, sehingga dia mampu menolak ajakan temannya dan perilaku membolos dapat diturunkan. Data yang diperoleh peneliti dari pra siklus, siklus I dan siklus II adalah sebagai berikut:

 

 

 

 

Tabel 1. kategori tingkat membolos siswa

 

Kategori Skor
Rendah 5-35
Sedang 36-65
Tinggi 66—95

 

 

                       Tabel 2. tingkat membolos siswa pra siklus, siklus I dan siklus II

 

Nama            Keterangan Skor            Kategori
Adr Pra siklus 85 Tinggi
Adr Siklus I 55 Sedang
Adr Siklus II 32              Rendah

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil uraian pemaparan dan pembahasan data di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa prilaku membolos dapat diturunkan dengan memberikan layanan konseling individu melalui pendekatan behavior teknik latihan asertif untuk bisa menolak dengan tegas ajakan teman membolos ataupun berkata tidak untuk membolos. Hasil dari penelitian ini tentunya masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu peneliti memberi saran untuk semua pihak supaya terus mengembangkan keprofesionalan sebagai guru BK dan selalu mengupdet kemampuan dalam menerapkan berbagai teori dan strategi dalam proses konseling untuk membantu siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2014. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi 2004. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Erman Amti, Prayitno. 2013. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Gunarsa, Singgih. D. 2012. Psikologi Untuk Membimbing. Jakarta: Gunung Mulia. Hartono, dkk. 2018. Psikologi Konseling, Jakarta: Kencana.

Lexy J, Moleong. 2019. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja. Rosdakarya. h.4

Husnah, S., Wahyuni, E., & Fridani, L. (2022). Gambaran Perilaku Asertif Siswa Sekolah Menengah Atas. EDUKATIF: JURNAL ILMU PENDIDIKAN, 4(1), 1370-1377.

Novianti, D. (2021). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Asertivitas dan Prestasi Ekonomi Siswa. Sustainable Jurnal Kajian Mutu Pendidikan, 4(1), 39-49.

Fikri, A. (2022). Penerapan Teknik Kontrak Perilaku untuk Mengurangi Perilaku Membolos Siswa di SMA NEGERI 11 SIDRAP.

Aryanto, W., Arumsari, C., & Sulistiana, D. (2021). HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN PERILAKU ASERTIF PADA REMAJA. QUANTA, 5(3), 95-105.

Trisnawati, I. (2020). Menurunkan Prilaku Membolos Dengan Layanan Konseling IndividuMelalui Teknik Latihan Asertif Pada Siswa Kelas XI TKJ 2 SMK Raden Paku Wringinanom. Nusantara of Research: Jurnal Hasil-hasil Penelitian Universitas Nusantara PGRI Kediri, 7(2), 86-91.

Marwati, Devi. 2019. Pengaruh Layanan Konseling Kelompok Dengan Teknik Latihan Asertif Terhadap Prilaku Membolos Peserta Didik SMK 4 Bandar Lampung. Skripsi. Lampung: Universitas Islam Negeri Raden Intan.

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta, CV. Supriyo. 2008. Studi Kasus Bimbingan Konseling. Semarang : CV.Nieuw Setapak